Minggu, 25 Februari 2018

Perbandingan kitab asli dan terjemah



NAMA            : HANDAYANI
NIM                : 175231061
KELAS           : PBS 2B

Tulisan ini akan membahas mengenai perbandingan antara kitab terjemah dengan kitab yang asli. Kitab asli serta kitab terjemah ini saya peroleh dari perpustakaan utama IAIN Surakarta, kebetulan saya mendapatkan kitab yang membahas mengenai hadis riwayat Sunan At-Tirmidzi. Pada saat mencari kitab terjemahan tersebut terdapat beberapa jilid, jilid yang ada pada saat itu adalah jilid 1 sampai dengan jilid 4, akhirnya saya mengambil jilid 3 dan mencari kitab asli dari jilid ke-3 tersebut di lantai 2. Merasa bingung saat di lantai 2 karena belum pernah sama sekali mencari pasangan kitab, ternyata cara mencari kitab asli dengan mencocokkan kode yang tertera pada kitab terjemahan. Setelah kebingungan dan menyusuri rak buku yang penuh dengan kitab akhirnya kitab asli dari kitab terjemahan hadis riwayat Sunan At-Tirmidzi jilid 3 saya temukan. Saat itu saya mencoba memadukan kitab asli dengan kitab terjemahan dengan cara melihat isi pada halaman pertama.
Saya tahu bahwa kitab tersebut pasangan ketika saya melihat pada halaman pertama yang bertuliskan “16. Bab tentang berapa besar barang curian untuk hukuman potong tangan” dan pada kitab asli pada halaman pertama terdapat tulisan 16 pula namun dengan menggunakan bahasa arab. Dari hal tersebut saya yakin bahwa kitab tersebut adalah kitab asli dari kitab terjemahan jilid 4 tersebut. Namun kitab asli yang saya temukan tersebut kondisinya sudah mulai rusak, cover dan isi buku sudah tidak lagi menyatu atau lengket seperti buku-buku yang biasanya. Tidak beda jauh dengan kitab terjemahnya, kondisinya pun juga sudah mulai rusak, kitab asli dan terjemah ini memang jika dipandang dari luarnya pun sudah terlihat jika buku tersebut sudah tua.
Kitab asli dari hadis riwayat tirmidzi ini memiliki cover yang bisa dibilang cukup tebal dan berwarna biru dongker. Berbeda dengan warna covernya, warna kertas isi dalam kitab tersebut berwarna kuning dan bertekstur sangat halus. Tampilan kitab ini jika dilihat dari luat terlihat simple dan sangat elegan. Jumlah halaman kitab tersebut yaitu 406 halaman, walaupun dapat dikatakan memiliki jumlah halaman yang banyak namun kitab ini tidak terlihat tebal, selain memiliki halaman yang bisa dibilang banyak namun tidak tebal, kitab ini juga dapat dikatakan ringan dengan ukuran seperti buku-buku biasanya ada yaitu memiliki ukuran 24x16.
Kitab asli ini memiliki isi yang ditulis dengan menggunakan bahasa arab. Meski kitab ini jika dilihat dari luar terlihat sama dengan buku-buku yang biasanya ada, namun kertas yang dipakai dalam kitab ini berbeda seperti kertas biasanya. Kertas yang digunakan bertesktur lembut, tidak mudah kusut meskipun kertas yang digunakan bisa dibilang tipis. Kertas ini mungkin yang menjadi sebab walaupun memiliki halaman yang banyak namun tidak terlihat tebal dan tidak berat selain itu, Sistematika penulisan kitab ini sangat rapi dan jelas.
Selain kitab asli yang memiliki tampilan simple dan elegan, kitab terjemah dari hadis riwayat Sunan At-Tirmidzi jilid 3 ini juga memiliki tampilan yang elegan pula. Sama halnya dengan kitab aslinya, kitab terjemah ini juga memiliki cover yang cukup tebal. Kitab terjemah ini memiliki cover berwarna ungu dengan gradasi warna kuning dan hijau yang bisa dibilang menarik. Cover dalam kitab terjemah ini didesign oleh Pro Graphic Studio. Kitab terjemah tersebut memiliki tebal 834 halaman, sesuai dengan tebalnya, buku ini sangat tebal dan cukup besar. Berbeda jauh dengan kitab aslinya, kertas yang digunakan dalam menulis isinya tidak seperti kitab asli yang berwarna kuning dan bertekstur halus, melainkan kertas dalam kitab terjemah ini seperti kertas yang digunakan biasanya, berwarna kecoklatan dan sangat mudah kucel.
Memiliki 834 halaman kitab terjemah memiliki ukuran 21x15, jika dilihat dari luarnya sudah sangat terlihat ketebalannya. Memiliki sistematika penulisan yang bisa dikatakan rapi dan jelas, dimana lay out isi diedit oleh Jahrun dan Ahma, dalam kitab terjemah ini juga terdapat bahasa arab. Jika di dalam kitab asli semua berbahasa arab tidak ada sama sekali bahasa indonesianya, namun pada kitab terjemah ini terdapat bahasa arab dan bahasa Indonesia yang menjelaskan arti dari ayat yang dituliskan.
kitab terjemah ini memiliki 15 bab yang dibahas di dalamnya. Selain 15 bab tersebut sebenarnya terdapat lanjutan jilid  2 yang dibahas di dalam kitab ini. Bab yang dibahas dalam jilid  kitab terjemah sunan At-Tirmidzi antara lain, bab tentang beburu dari Rasulullah SAW, tentang qurban dari Rasulullah SAW, tentang nadzar dan sumpah dari Rasulullah SAW, tentang peperangan yang tidak diikuti oleh Rasulullah SAW, tentang keutamaan berperang dari Rasulullah SAW, tetang berperang dari Rasulullah SAW, tentang pakaian dari Rasulullah SAW, tentang makanan-makanan dari Rasulullah SAW, tentang minum-minuman dari Rasulullah SAW, tentang anjuran berbuat kebaikan dan menyambung tali hubungan dari Rasulullah SAW, tentang pengobatan dari Rasulullah SAW, tentang Faraidh dari Rasulullah SAW, tentang wasiat dari Rasulullah SAW, tentang hak wala’ dan hibah dari Rasulullah SAW, dan terahir yang dibahas pada jilid ini adalah tentang qadar dari Rasulullah SAW.
Dalam hadis terjemah riwayat Sunan At-Tirmidzi terdapat salah satu hadis yang membahas mengenai bersenda gurau, berikut salah satu hadis yang yang membahas hal tersebut:
حَدَّتَنَاءَبْدُااللهِبْنُ اْلوَضَّاحِ اْلكُوْفِىُّ، حَدَّتَنَاءَبْدُااللهِ بْنُ إِدْرِيْسَءَنْ شُءْبَةَءَنْ أَبِى التَّيَّاحِءَنْ أَنَسِ قَالَ :" إٍنْ كَا نَ رَسُوْلُ ا اللهِ صَلَّى ا اللهُءَلَيْهِ وَسَلَّمَ لَيُخَا لِطُنَاحَتُّى إِنَ كَا نَ لَيَقُوْ لَ لِأَ خٍ لَى صغِيْرٍ :يَاأَبَاءُمَيْر مَا فَعَلَ ا لنُّعَيْر ؟".
2056. Abdullah bin Al-wadhdhah Al-Kufi menceritakan kepada kami, Abdullah bin Idris menceritakan kepada kami dari Syu’bah dari Abit tayyah dari Anas berkata: “Sesungguhnya Rasulullah saw. Benar-benar bergaul dengan kami sehingga sesungguhnya beliau bersabda kepada saudaraku yang masih kecil: “Hai Abu Umair, apa yang dilakukan oleh burung Nu’air?”
            Dari hadis tersebut sudah jelas bahwa Rasulullah saw bergaul dengan orang-orang, bahkan orang kecil sekalipun. Bergaul tidak boleh memandang besar kecilnya orang, besar kecinyaa harta, ataupun mendandang dari suatu hal dimana hal itu menjerumus kepada diskriminasi. Bergaul sama halnya dengan menambah saudara, jadi kita jika bergaul atau biasa disebut bersahabat dengan orang lain, kita tidak boleh memandang sesorang dari sudut pandang tertentu. Semua orang sama di mata Allah SWT, jadi sudah seharusnya jika tidak memilah-milah jika ingin bergaul dengan orang lain.
Kitab terjemah Sunan At-Tirmidzi jilid ke-3 ini dikarang oleh seorang ahli hadis yang bernama Muhammad Isa bin Surah At Tirmidzi, dan memiliki nama lengkap Imam al-Hafizh Abu Isa Muhammad bin Isa bin Saurah bin Musa bin ad-Dahlak as-Sulami at-Tirmidzi. Baliau lahir di Tirmiz dan menetap disana bersama dengan kakeknya. Sunan At-Tirmidzi sempat belajar dengan Imam Bukhari mengenai hadis, selain dengan Imam Bukhari, beliau juga sempat belajar dengan Imam Muslim dan Abu Dawud. Selain berguru dengan itu, beliau memiliki guru lain. Hadis-hadis beliau banyak dipelajari dan diriwayatkan oleh para ulama, para ulama.
Selain ahli dalam hadis, Sunan At-Tirmidzi juga dikenal sebagai ahli fiqih. Kitab yang sudah ditulis Imam at-Tirmidzi selain hadis ini ada 6 kitab lain yang telah ditulisnya. Baliau wafat saat berumur 70 tahun, pada senin malam 13 Rajab 279 H atau 8 Oktober 892), pada waktu itu beliau mengalami sakit kebutaan. Kitab yang dikarang oleh sunan at-Tirmidzi ini di terjemahkan oleh Drs. H. Moh Zuhri, Dipl,Tafl, dkk. Yang diterbitkan oleh CV. Asy-Syifa’ Semarang, dicetak oleh CV. Adhi Grafika Semarang, dimana cetakan pertamanya pada bulan Oktober tahun 1992.
Setelah saya mengetahui kitab asli dan terjemah dari hadis riwayat Sunan at-Tirmidzi, yang sebelumnya sama sekali belum saya ketahui, banyak hal-hal yang sebelumnya saya tidak tahu saya menjadi tahu bahwa semua hal sudah di atur di dalam Al-Qur’an dan Hadis. Menurut saya memang sangat penting untuk menelaah kitab-kitab tersebut, Umat muslim perlu mengerti aturan yang telah ada di dalam hadis, karena pada zaman sekarang banyak yang tidak perpedoman pada Al-Qur’an dan hadis. Walupun hadis tersebut sudah ditulis pada zaman dahulu, namun isinya masih relevan sampai saat ini. Oleh sebab itu para umat islam perlu adanya mengkaji hadis agar setiap perlakuan yang dilakukan sesuai dengan Al-Quran ataupun hadis.

Sabtu, 03 Februari 2018

METODOLOGI STUDI ISLAM


NAMA            : HANDAYANI
NIM                : 175231061
KELAS           : PBS / 2B

Identitas Buku
Nama Penulis : -Drs. Atang Abd. Hakim, M.A.
                          -Dr. Jaih Mubarok
Judul Buku     : METODOLOGI STUDI ISLAM
Tahun Terbit   : 2002
Penerbit          : Remaja Rosdakarya
Kota Terbit     : Bandung


METODOLOGI STUDI ISLAM
Di dalam studi keagamaan antara kata religion dan religiosity ternyata berbeda.Religion  dialihkan menjadi agama, agama dalam hal ini diartikan sebagai sikap keberagamaan atau sering disebut dengan kesalehan hidup dimana nilai-nilai tersebut berdasarkan pada nilai ketuhanan. Selang waktu berjalan, religion dialihkan kembali menjadi himpunan doktrin, ajaran, dan hukum-hukum baku dimana hukum tersebut diyakini sebagai perintah Tuhan. Di sisi lain kata religiositas lebih tepatnya disebut dengan spiritualitas, ternyata dua kata ini memiliki arti yang berbeda.
Agama di Indonesia harus diwujudkan dalam bentuk ritual yang formal, sehingga agama menjadi kurang dipahami orang para pemegangnya. Dalam hal ini studi islam diharapkan dapat mencari dan menemukan jalan keluar dari masalah ini. Masalah internal umat islam didasari organisasi yang formal namun belum sepenuhnya final.Pendidikan islam awal mulanya dilakukan di masjid-masjid, namun setelah masa kejayaan islam pendidikan islam ini dipindahkan menjadi dipusatkan di Bagdad, tepatmya di Istana Dinasti Bani Abbas. Setelah kemajuan zaman, sekarang studi islam telah berkembang di seluruh negara di dunia, tidak hanya di dunia islam saja.
Islam telah berperan banyak dalam kehidupan manusi seperti, telah terbentuk suatu komunitas yang dapat dibilang telah progresif, progresif maksudnya adalah dapat mengembangkan kehidupan menjadi lebih baik lagi. Umat islam memiliki ilmu yang berada ditangannya, ilmu tersebut dinamakan ilmu Eksakta. Ilmu ini membahas tentang masalah yang bersifat pasti.Ilmu-ilmu ini seperti matematika, astronomi, kimia, dan optik.
Islam atau disebut dengan agama ternyata memiliki hubungan yang dengan budaya yang berlaku di masyarakat, walaupun dua hal ini berbeda namun saling keterkaitan.Agama lebih memiliki sifat yang lebih daripada kebudayaan yaitu agama memiliki sifat mutlak.Dibandingkan dengan kebudayaan yang dapat berubah-ubah sesuai dengan kondisi zaman yang semakin maju.Kebudayaan berkaitan dengan kebudayaan pra-islam sebab, bangsa arab pada zaman dahulu memiliki kemajuan dibidang ekonomi yang baik dibanding bangsa lain, dari hal ini mendukung pula islam mudah disebar luaskan oleh para kalangan.
Islam memiliki beberapa persentuhan dengan kebudayaan yang ada di Indonesia seperti, melayu dan jawa. Tidak hanya dalam hal kebudayaan saja namun islam juga mempengaruhi dalam bidang seni, sastra,dan model bangunan. Selain itu Islam pun juga berpengaruh hal yang berkaitan dengan adat.
Penelitian agama di sini bukanlah penelitian yang tertuju pada hakikat agama atau wahyu, akan tetapi penelitian di sini meneliti tentang bagaimana cara manusia meyakini, menghayati serta memperoleh pengaruh dari agama tersebut. Penelitian agama juga tidak meneliti mengenai kebenaran suatu filosofi, namun lebih menekankan bagaimana suatu agama itu berada dalam kebudayaan serta sistem social dan didasarkan pada fakta yang ada.
Agama atau yang sering juga disebut dengan wahyu diturunkan berdasarkan wujud yang berbeda-beda, di dalam hal tersebut terdapat 3 pembeda yakni, agama yang di turunkan terjuwud dalam bentuk pikiran dan pengetahuan manusia dimana hal ini berkaitan dengan budaya yang akan tercipta.Terwujud dalam bentuk sikap serta tindakan manusia, hal ini berkaitan dengan interaksi manusia sehari-hari yang dilakukannya berdasarkan lingkungan, yang terakhir yaitu terwujud dalam bentuk benda yang dianggap suci atau benda yang biasanya dikeramatkan, benda-benda disini contohnya seperti bangunan-bangunan candidan bedug-bedug para sunan.
Terdapat beberapa model yang ada di penelitian keagamaan yaitu seperti, analisis sejarah, analisis lintas budaya, eksperimen, observasa partisipatif, riset survey, analisi statistic, serta analisis isi.
Al-Quran ialah wahyu yang diberikan kepada Nabi Muhammad Saw. Berbeda dengan kalam yang diturunkan pada nabi lain seperti taurat, injil dan zabur. Al-Quran memiliki fungsi yang tersurat di dalamnya seperti: Al-huda, al-furqan, Al-syifa, dan Al-mau’ishah. Kedudukan Al-Quran salah satunya adalah sebagai firmah Allah SWT.Banyak hikmah yang diperoleh setelah di turunkannya pewahyuan Al-Quran ini seperti, arti arti yang ada di dalam Al-Quran tidaklah hampa social.Maksud dari hampa sosial di sini ialah mampu menyelesaikan masalah-masalah yang berada di masyarakat.
Ternyata hadis juga merupakan sumber agama islam. Fungsi hadis di sini ialah lebih memperinci ayat-ayat yang berada di Al-Quran, memberi syarat terhadap ayat yang mutlak, mengkhususkan ayat-ayat yang bersifat umum, dan menetapkan aturan yang tidak terdapat dalam Al-Quran. Penulisan kodifikasi hadis ini dimulai setelah perintah dari Khalifah Umar bin Abd al-Aziz yang menyuruh pakar hadis menulisnya.  Pada periode kodifikasi ini sahabat yang menerima hadis tersebut menyalinnya secara pribadi, setelah itu kemudian para sahabat menyampaikan ke yang lain melalui hafalan.
Selain Al-Quran dan hadis,ijtihad juga merupakan sumber ajaran islam. Ijtihad di sini hanya berlaku dalam bidang fikih, selain dalam bidang fikih, juga dalam  bidang hukum yang bersangkutan degan amal,akan tetapi bukan di dalam bidang pemikiran. Terdapat beberapa rukun ijtihad diantaranya, Al-waqi’, Mujtahid, Mujtahid fih, Dalil Syara.Di dalam ijtidah terdapat pengertian lapangan ijtihad, maksudnya ialah masalah yang dibolehkan penetapan hukumnya dengan ijtihad.Dimana terdapat 4 hukum ijtihad, wajib’ain, wajib kifayah, sunat, dan dan haram.
Iman kepada Allah dapat disebut juga pengakuan akan keberadaan Allah SWT. Iman kepada Allah ini merupakan doktrin yang paling utama dalam islam, dimana doktrin ini tidak dapat ditawar lagi. Hal ini merupakan dimensi yang terkait dengan petunjuk dan pertolongan dari Allah.Allah adalah Maha Esa, baik dalam zat ataupun perbuatan.Maksudnya di sini adalah Allah tidak tersusun atas bagian-bagian dan tidak pula memiliki sekutu.
Ada tiga argument yang menjelaskan mengenai asal kejadian alam yang mendukung keberadaan Tuhan.Pertama, suatu paham yang mengatakan bahwa alam semesta ada dari yang tidak ada.Kedua, alam semesta berasal dari sel yang merupakan inti.Dan paham yang ketiga adalah alam semesta ada yang mencipta.Dari ketiga paham tersebut dikemukakan oleh Sayid Syabiq.
Ritual dapat diartikan sebagai perilaku yang diatur secara ketat dan memiliki makna tertentu. Jika dilihat dari segi pandang, ritual dapat dibedakan menjadi dua: ritual individu dan kolektif. Ritual di sini berbeda dengan ritual islam, ritual islam dibedakan menjadi dua pula yakni, ritual yang mempunyai dalil tegas yang ada di dalam al-Quran dan Sunnah, contohnya sholat. Sedangkan yang kedua adalah ritual yang tidak memiliki dalil, contoh ritual kedua ini adalah tahlil. Ternyata ritual tidak dibedakan atas ritual umun dan islam saja, namun ada beberapa ritual lain seperti, dari sudut mukalaf dan tujuan.
Institusi dapat diartikan sebagai bangunan serta sistem norma yang didalamnya terdapat arti pranata. Institusi yang umum berbeda dengan institusi islam. Normanya di sini pun berbeda pula, tercermin pada akidah,ibadah, muamalah, dan akhlak.Menurut A. Hasymy, Harun Nasution, periode islam dibagi menjadi tiga periode,  periode klasik, pertengahan dan modern.Dimensi islam ialah hal yang membahas  tentang keislaman seseorang, yaitu iman, islam, dan ihsan. Aliran pemikiran islam dibagi menjadi tiga, diantaranya adalah: aliran kalam, aliran fikih, dan aliran tasawuf.
Studi islam telah terlaksana di berbagai kawasan seperti islam di Afrika Timur, Asia Tenggara, serta di Cina. Namun di dunia dewasa sekarang islam semakin berkembang di berbagai negara lain seperti di Amerika Serikat, Cina, dan Asia Tenggara. Perkembangan umat mualim semakin luas.Umat islam dalam merespon tradisi yang berkembang di masyarakat dibedakan menjadi dua: kaum tua dan kaum muda. Kaum tua disini adalah kaum yang mendukung perubahan sedangkan kaum muda adalah kaum yang menentang.Karena minimnya penguasaan teknologi sekarang umat islam menjadi terbelakang, mungkin identic dengan kebodohan dan kemiskinan. Sedangkan umat negara lain lebih maju karena menguasai teknologi, reaksi kemajuan ini dibedakan menjadi empat yaitu tradisionalis, modernis, revivalis-fundamentalis serta transformatif.
Akhlak yang sangat dianjurkan islam dibagi menajadi dua: akhlak yang ada kaitannya dengan manusia dan akhlak yang berkaitan dengan alam. Kedudukan manusia dalam islan adalah sebagai makhluk social dan individu, makhluk biologis dan spiritual. Tugas manusia khusunya umat islam adalah beribadah kepada Allah. Kekhalifahan manusia di bumi ialah manusia sebagai duta Tuhan di bumi dan akan diminta pertanggung jawaban kelak.
Masyarakat yang sejahtera berawal dari pembinaan dan penataan di keluarga terlebih dahulu, melalui nilai-nilai islam, maka dari keluarga yang ideal akan terbentuk masyarakat yang ideal pula. Karena manusia adalah makhluk sosial maka sesama umat islam harus saling tolong menolong, sebab manusia tidak bisa hidup sendiri. Silaturahmi antar umat bermasyarakat sangatlah penting sebab jika memutuskan silaturahmi maka tertutuplah pintu surga.


Selasa, 14 November 2017

Diantara 2 Masjid



SEJARAH MASJID DI DUSUN SAMBIREJO

Nama   : Handayani
Kelas   : Perbankan Syariah 1B
NIM    : 175231061

I.                   Pendahuluan
Narasi ini membahas tentang sejarah masjid Al-Kholifah dan Darul Fikri. Masjid ini terletak di dusun Sambirejo, kelurahan Jatiroyo, kecamatan Jatipuro. Saya memilih masjid di dusun ini karena memiliki cerita yang cukup menarik. Berita mengenai masjid ini saya peroleh dari ketua masjid di dusun ini yang bernama bapak Padmo. Dari pengurus yang lain memang bapak padmo ini salah satu  orang yang menetahui sejarah masjid dari sejak dahulu. Karena beliau adalah ketua masjid hingga sampai saat ini dan beliau merupakan orang yang dipercaya di sebagai pengurus masjid tersebut, meskipun sempat terjadi pergantian masjid, beliau juga masih sangat aktif dalam kegiatan di masjid. Masjid di dusun ini memiliki suatu hal yang jarang ditemukan di masjid lain, yaitu masjid ini memiliki ruangan tepat di bawah masjid sebagai ruangan berkumpul warga dusun dan kegiatan TPQ. Masjid Darul Fikri ini terletak di Dusun Sambirejo, yang memiliki tempat yang sangat strategis yaitu berada tepat di tengah-tengah dusun. Dibangun pada tahun 2012 dengan proses pembangunan bertahap hingga selesai pada tahun 2014.
Sebelum adanya masjid ini, telah dibangun masjid pada tahun 1988, yang diberi nama masjid Al-Kholifah. Masjid ini adalah masjid pertama yang berada di dusun Sambirejo. Posisi masjid ini bisa dibilang tidak strategis karena tempatnya yang tidak dekat dengan dengan jalan raya dan tidak berada di tengah-tengah dusun. Memiliki  fasilitas yang sudah cukup lengkap, akan tetapi setelah bertahun-tahun dipakai ternyata pemilik tanah yang dibangun masjid ini tidak membolehkan apabila tanahnya diwakafkan untuk masjid. Akhirnya dibangun masjid Darul Fikri yang sekarang menjadi masjid utama di dusun Sambirejo.
Masjid ini memiliki beberapa ruangan, ruangan utama, ruangan di serambi kanan dan kiri, serta ruangan di bawah tanah. Masjid Darul Fikri ini memiliki arsitektur ruangan yang bisa dibilang cukup modern, akan tetapi masih terdapat budaya jawa seperti ukiran-ukiran dan kaligrafi yang menempel di tembok-tembok masjid. Selain ruang utama yang digunakan untuk sholat berjamaah, masjid yang memiliki ruang dibawah tanah ini digunakan untuk berbagai macam kegiatan. Ruangan ini memang sengaja dibuat di bawah masjid. Kepala desa yang mengusulkan pembangunan tersebut.
Masjid yang belum lama dibangun ini berbeda dengan masjid-masjid yang biasanya ada, masjid ini memiliki ruangan di bawah tanah. Ruangan ini digunakan untuk pertemuan warga dusun. Memang sengaja di bangun di bawah masjid agar setiap kegiatan selalu ingat kepada Allah SWT.  Masjid dan ruangan ini memiliki fungsi sebagai tempat pemersatu warga dusun. Karena setiap perkumpulan warga pasti selalu di ruang tersebut.
II.                Pembahasan
Geografi dan Proses Pembangunan
Dusun Sambirejo memiliki 2 masjid, yaitu masjid Al-Kholifah dan masjid Darul Fikri. Masjid Al-Kholifah adalah masjid yang pertama dibangun di dusun ini, pembangunan masjid ini pada tahun 1988 dengan luas tanah sekitar 8 meter. Sebelum dibangunnya masjid ini, warga dusun sholat berjamaah di mushola balai desa, kebetulan balai desa Jatiroyo bertempat di dusun ini, namun jika sholat jumat warga desa biasanya sholat di masjid dusun tetangga yang berada di barat dusun. Alasan dusun ini belum dibangun masjid pada waktu itu karena minimnya dana yang dimiliki, penduduk dusun masih sangat kekurangan dalam segi ekonomi untuk memenuhi kebutuhan sehari-hari. Akhirnya kepala dusun merencanakan pembangunan masjid dengan mengadakan rapat dengan warga dusun, karena minimnya dana yang dimiliki, pembiayaan pembangunan dilakukan dengan cara gotong-royong. Material yang digunakan tidak dengan cara membeli, tetapi dengan cara mencari batu ke sungai yang berada di dekat dusun dan mengusung material tersebut dengan cara dipikul karena pada saat itu masih minimnya alat transportasi.
Pasir yang digunakan untuk membangun didapatkan dari tebing di timur dusun, namun pada saat itu panggunaan pasir masih sangat minim, sebagai pengganti pasir adalah dengan memakai tras. Tras ini juga didapatkan dari tebing yang berada di dekat dusun. Seletah semua material hasil mencari ke sungai dan tebing terkumpul, akhirnya panitia meminta bantuan seikhlasnya ke warga dusun untuk membeli bahan-bahan yang lain. Dana yang terkumpul digunakan untuk membeli semen dan gamping. Sedangkan kayu yang digunakan diperoleh dari makam. Kayu tersebut bersifat umum, setiap orang yang membutuhkan kayu dalam hal kebaikan, boleh menebang kayu yang berada di makam tersebut. Orang yang menanam kayu itu adalah Joko Kastono, Joko Kastono ini adalah sebutan zaman dulu untuk orang yang membersihkan makam atau orang yang merawat makam. Pada saat itu nama Joko Kastono itu adalah simbah Pokariyo. Simbah Pokariyo ini adalah warga asli dusun Sambirejo. Beliau tidak meminta imbalan apapun karena mengetahui bahwa kayu tersebut akan digunakan untuk membangun masjid.
 Masjid dibangun di atas tanah milik bapak Narjo, dialah yang mengusulkan sendiri agar pembangunan masjid dibangun didekat rumahnya dan di tanahnya. Pada saat itu posisi tanah masih miring, akhirnya warga dusun bergotong-royong untuk meratakan tanah tersebut, waktu proses menggeser tanah yang miring agar menjadi rata memakan waktu 2 bulan, karena proses penggeseran tidak setiap hari dilakukan. Pembangunan masjid ini dilakukan secara bertahap. Dengan proses awal membagun pondasi, kemudian membangun tembok, dan kemudian atap dengan kayu dari makam. Pembelian genting masjid dilakukan dengan cara swadaya warga dusun. Setelah pembangunan masjid ini selesai, peresmian masjid dilakukan dengan sederhana, hanya mengundang beberapa perangkat-perangkat satu kelurahan karena minimnya dana yang dimiliki. Ketika awal masjid ini sudah selesai dibangun, jamaah yang sholat ke masjid belum cukup banyak, hanya pada waktu tertentu saja banyak jamaah yang datang ke masjid, seperti pada saat hari raya idul fitri dan hari raya idul adha. Kegiatan remaja masjid di dusun ini bisa dibilang cukup aktif. Kegiatan yang dilakukan biasanya TPQ dan kajian-kajian untuk para remaja setiap minggunya, serta kajian-kajian untuk jamaah masjid, yang biasanya kajian ini disampaikan oleh uztad yang biasanya mengajar di masjid ini.

Pewakafan Tanah
Seiring perkembangan zaman, pemerintah ingin setiap tanah yang dibangun masjid diwakafkan. Memang pada saat itu sertifikat tanah masih bernama ibu Diyem, karena tanah itu adalah tanah peninggalan orang tuanya. Ibu Diyem dan pak Narjo tidak mengizinkan tanah itu diwakafkan untuk masjid sepenuhnya. Mereka mengizinkan jika didirikan masjid boleh akan tetapi jika diwakafkan tidak boleh. Setelah mendengar berita itu, penduduk dusun walupun sudah memiliki masjid namun tetap tidak puas, karena masjid itu tanahnya tidak diwakafkan, penduduk dusun menganggap masjid itu adalah masjid pribadi. Setelah beberapa bulan, seorang warga dusun yang telah sukses di perantauan mewakafkan tanahnya untuk dibangun majid baru, lokasi tanah ini tidak jauh dari masjid awal, hanya sekitar 100 meter. Nama pemilik tanah ini yaitu Supadi, ia mengesahkan tanah itu kepada bapak kadus, pada saat pengesahan itu diterima oleh bapak Parmin sebagai panitia masjid. Setelah proses serah terima selesai, selanjutnya panitia melakukan  proses pengesahan. Pengesahan tanah yang diwakafkan untuk masjid ini berada di KUA Jatipuro.
Setelah proses pewakafan itu selesai, banyak warga dusun yang berada di perantauan mengirim uang untuk pembangunan masjid baru. Pada saat itu donatur yang paling besar adalah Bapak Narjo, dia memberi donatur pohon jati sampai tercukupinya proses pembangunan, selain itu beliau juga memberi bantuan uang 20.000.000. Selain dari warga dusun, bantuan juga datang dari warga dusun yang sudah punya rumah di Bali, beliau bernama mas Yunanto, ia mendonaturi keramik sampai tercukupinya untuk masjid. Masih banyak donatur lain yang memberi bantuan, pengurus keuangan masjid adalah ibu Sugiyem. Setiap donatur yang memberikan bantuan pasti langsung ditujukan kepada beliau. Pembangunan masjid tidak langsung dilakukan, tetapi menunggu dananya terkumpul agar pada saat proses pembangunan tidak terhenti di tengah-tengah jalan.

Proses Pembangunan Masjid Darul Fikri
Pembangunan masjid ini dimulai pada tahun 2012, proses pembangunan dilakukan dengan gotong-royong warga dusun, sistem gotong-royong ini dilakukan secara bergantian setiap RT, kebetulan di dusun ini ada 3 RT. Pembangunan ini diselesaikan dalam waktu 2 tahun, bisa dikatakan cukup lama sebab para warga dusun disibukkan dengan pekerjaannya sebagai petani dan pedagang. Selain kendala itu, kendala yang lain adalah masalah bahan-bahan dari para donatur yang terkadang terlambat dikirim. Biasanya pembanguan diberhentikan sampai bahan-bahan ada kembali. Selama proses pembangunan ini, warga dusun melakukan sholat berjamaah dan kegiatan TPQ di masjid lama, akan tetapi warga dusun memiliki kesepakatan jika masjid yang baru sudah selesai pembangunannya dan sudah layak dipakai maka kegiatan ibadah warga dusun sudah berada di masjid yang baru.  Selain warga dusun yang membangun masjid, banyak juga warga dusun tetangga yang membantu pembangunan masjid ini tanpa imbalan apapun.
Setelah masjid selesai dibangun, ternyata masih banyak donatur yang membantu untuk membelikan ataupun melengkapi perlengkapan untuk keperluan masjid. Ada yang membelikan karpet, kipas angin, jam dinding dan masih banyak perlengkapan yang lain. Proses peresmian masjid ini bisa dibilang cukup mewah dibandingkan dengan peresmian masjid yang lama. Peresmian masjid ini dihadiri oleh Bapak Bupati Karanganyar beserta wakilnya. Undangan juga disebarkan ke setiap masjid di seluruh kecamatan Jatipuro, jamaah yang hadir pada saat itu mungkin lebih dari 1.000 jamaah. Tepat pada tanggal 11 Mei 2014 masjid baru di dusun Sambirejo diresmikan dengan Bapak Bupati yang ditemani bapak wakil Bupati memotong pita ditengah pintu utama masjid. Tidak kalah dengan masjid yang lama, kegiatan remaja masjid baru kini semakin aktif, tidak hanya kegiatan remaja namun kegiatan para ibu-ibu dan bapak-bapak juga tidak kalah aktifnya. Seperti diadakannya pengajian rutian setiap 2 jumat sekali. Kegiatan TPQ anak-anak juga semakin aktif, tidak hanya itu, setelah dibangunnya masjid ini jamaah sholat maghrib dan isya juga semakin banyak
Mengenai masjid yang lama, sekarang sudah tidak dipakai, masjid itu sekarang sudah menjadi masjid pribadi, namun pemilik tanah masjid yang tidak boleh diwakafkan itu setiap sholat jamaah pasti ikut ke masjid yang baru, jika ada kegiatan masjid beliau juga turut berpartisipasi. Masjid yang pertama dibangun tidak terurus lagi, sebab warga desa menganggap masjid itu adalah masjid pribadi dan sangat tertutup. Warna cat sudah mulai memudar dan bangunan yang sudah terlihat sangat tua. Kini masjid Darul Fikri menjadi masjid satu-satunya di dusun Sambirejo. Walaupun masjid ini sudah lama dibangun tapi masih banyak donatur yang memberikan bantuan ke masjid ini. Tidak hanya dari warga dusun, banyak warga luar dusun bahkan desa yang memberikan bantuan ke masjid ini. Dana untuk pembangunan masjid ini menghabiskan Rp 800.000.000. mungkin pembangunan masjid ini bisa dibilang menghabiskan dana yang banyak sebab dalam pembangunan masjid ini serba kuat. Meskipun menghabiskan dana banyak, akan tetapi kemajuan masjid ini dapat dibilang sangat pesat.

Luas dan Kegiatan Masjid
Masjid Darul Fikri memiliki luas 343 M². Daya tampung masjid ini sekitar 200 lebih, teras masjid ini cukup luas, biasanya digunakan untuk sholat pada Hari Raya. Di serambi kiri masjid digunakan untuk kegiatan TPQ anak-anak. Anak-anak yang ikut TPQ biasanya dari kelas TK sampai kelas 3 SMP. Uztad pengajar TPQ bukan asli warga Sambirejo, asal uztad itu adalah dari Boyolali. Ia sempat mengajar di masjid yang lama, akan tetapi setalah dibangunnya masjid yang baru uztad tersebut pindah ke dusun lain. Kegiatan TPQ sempat terhenti, akan tetapi remaja masjid mengadakan lagi kegiatan tersebut, sementara mereka yang mengajar TPQ sebelum ada uztad yang baru.
Penduduk dusun yang telah lama merantau kini belum lama dia pulang, ia bernama mbah Aji, dia sekarang telah berumur sekitar 75 tahun lebih. Simbah Aji ini sangat mendalami agama. Walaupun sudah tua, tetapi simbah ini masih sangat fasih membaca Al-Qur’an, beliau juga masih memiliki penglihatan yang masih sangat tajam. Sejak kedatangan simbah itu di dusun Sambirejo, beliau yang mengajar TPQ anak-anak dan yang biasanya menjadi imam shalat berjamaah sekaligus mengisi tausiyah setelah shalat isya dan subuh. Untuk menunggu azan sholat isya biasanya mbah Aji memberi tausiyah. Mbah Aji ini adalah orang yang biasanya azan pada sholat 5 waktu. Tidak hanya memberi tausiyah, tapi simbah ini juga mengajarkan jamaah sholat maghrib tentang bacaan-bacaan penting. Ada juga anak-anak sehabis sholat maghrib berjamaah mereka tadarus Al-Quran bersama hingga azan sholat isya, mereka ini adalah anak-anak yang sangat dekat dengan mbah Aji. Setelah kedatangan beliau, masjid Darul Fikri semakin ramai, setiap malam jumat pasti ada kegiatan membaca yassin bersama hingga isya.
Kegiatan TPQ di masjid ini tidak hanya membaca iqro saja, akan tetapi juga diselipkan hafalan-hafalan surat pendek, hafalan doa sehari-hari, menulis arab, dan praktik sholat, praktik ini ditujukan untuk anak-anak yang masih kelas TK dan 1 SD. Masjid ini juga pernah mengadakan lomba hafalan, baca Al-Quran, tausiyah, dan azan, peserta lomba ini tidak hanya dari dusun Sambirejo saja, akan tetapi dari setiap masjid di desa Jatiroyo harus mengirimkan peserta yang akan ikut masing-masing lomba. Dalam  kegiatan ini juga dihadiri kepala desa Jatiroyo.
Selain kegiatan TPQ, ada juga kegiatan lain yaitu pengajian untuk para ibu-ibu dan bapak-bapak 2 minggu sekali tepatnya pada hari jumat. Pengajian ini dijatuhkan pada hari jumat karena pada hari jumat diyakini hari yang mulia. Mengenai setiap 2 minggu sekali karena diambil pada tengah-tengah bulan. Pengajian ini pasti selalu mengundang uztad yang dulu pernah mengajar TPQ di masjid lama sebagai pemimpin pengajian. Awal mula pengurus masjid merencanakan acara ini agar masjid Darul Fikri semakin rejo setelah adanya pergantian masjid. Masalah konsumsi diserahkan ke warga yang mendapat arisan pada saat pengajian tersebut. Namun setiap bulan ramadhan kegiatan pengajian ini berhenti, diganti dengan tadarus remaja masjid. Remaja masjid setiap minggunya juga ada kegiatan bersih-bersih masjid yang digilir. Masjid Darul Fikri ini memiliki golongan NU, karena sudah pernah ada pengajian NU di masjid ini dan setiap pengajian di rumah warga terkadang ada hadroh. Namun tidak hanya golongan NU saja, ada juga warga yang memiliki golongan yang berbeda, namun warga dusun Sambirejo saling toleransi meskipun golongan mereka berbeda-beda. Mereka tetap saling menghadiri ketika ada acara pengajian meskipun memiliki golongan yang berbeda.

Bagian-bagian Ruangan Masjid
Masjid ini memiliki beberapa ruangan, ruangan utama masjid digunakan untuk sholat jamaah dan TPQ, dilengkapi mimbar, 3 kipas angin, papan tulis, papan untuk mencatat arus kas masjid dan rak buku. Di serambi kanan dan kiri masjid terdapat 2 ruangan khusus, di serambi kanan masjid adalah ruangan untuk menyimpan sound yang biasanya digunakan untuk pengajian, DVD, dan alat-alat lain untuk keperluan pengajian rutin setiat 2 minggu sekali. Sedangkan ruangan di sebelah kiri digunakan untuk menyimpat karpet dan meja TPQ, selain karpet dan meja TPQ ada juga gelas dan piring yang biasanya digunakan untuk keperluan masjid. Ruangan di sebelah kanan lebih luas dibandingkan dengan ruangan di sebalah kiri masjid. Di bagian belakang masjid terdapat kamar mandi yang bisa dibilang cukup luas, di sebelah kamar mandi ada tempat wudhu dan ada pula bagian untuk wanita memakai hijab.
Masjid ini dilengkapi dengan pintu gerbang masuk. Pada bagian pintu gerbang masuk ini terdapat 2 tiang yang lebih tinggi dibandingkan dengan tiang di sebelahnya, pada 2 tiang ini terdapat 2 kubah sebagai batas pagar masuk dengan halaman masjid. Di sebelah tiang ini tepatnya di sebalah kanan, terdapat batu nisan yang bertuliskan pengesahan masjid yang ditanda tangani oleh Bapak Bupati Karanganyar. Di sebelah batu nisan tersebut akan dibangun tempat wudhu baru yang terhenti karena dana digunakan untuk hal yang lebih penting. Masjid ini memiliki 1 pintu utama yang cukup besar, sistem buka tutup pintu ini adalah dengan cara digeser. Selain pintu utama, masjid ini memiliki 2 pintu di sisi kanan dan 1 pintu di sisi kiri. Pintu sebelah kiri ini biasanya digunakan untuk keluar jamaah laki-laki. Masjid ini memiliki halaman yang cukup luas, namun para jamaah yang biasanya membawa motor memarkirkan motornya di tepi jalan, kebetulan posisi masjid berada di jalan berbelok yang posisi jalannya cukup lebar.

Keunikan
Tepat berada di bawah masjid terdapat ruangan yang cukup luas. Ruangan ini digunakan untuk berbagai macam kegiatan yang berkaitan dengan dusun seperti, perkumpulan, arisan, dan rapat-rapat penduduk dusun. Dulu sebelum ruangan ini di bawah masjid dibangun biasanya perkumpulan dan arisan berada di rumah kepala dusun. Ruangan ini sengaja dibuat agar lebih mengeratkan setiap warga penduduk dusun sambirejo, ruangan di bawah masjid ini sengaja di bangun tepat di bawah serambi kiri masjid agar setiap kegiatan apapun selalu ingat kepada Allah dan dalam menjalankan kegiatan selalu berpedoman kepada perintah Allah. Tidak hanya itu, dibangunnya ruangan di bawah masjid ini agar para warga semakin guyub rukun. Ruangan ini selain luas, juga dilengkapi dapur beserta perabotannya. Dapur ini biasanya digunakan untuk keperluan masjid ataupun pada saat ada perkumpulan dusun.
Apabila dilihat dari masjid memang ruangan ini sama sekali tidak terlihat, hanya terlihat ada sebuah bangunan masjid yang cukup besar. Namun jika melihat pada sebelah kiri ternyata terdapat ruagan yang terlihat gelap jika dari luar, namun jika sudah masuk ke dalam ruagan ini sangatlah terang dan luas. Biasanya ruang ini paling sering digunaan untuk rapat pengurus masjid. Mungkin masjid ini sudah dapat dibilang memiliki arsitektur yang modern dan ruangan serba guna, selain digunakan untuk keperluan ibadah masjid ini juga digunakan untuk kegiatan musyawarah. Jadi pusat utama penduduk dusun Sambirejo adalah ruangan yang bertempat di bawah masjid.
Ruangan ini merupakan alat pemersatu penduduk dusun. Sebab di tempat inilah setiap kegiatan perkumpulan dilakukan, selain untuk tempat perkumpulan orang-orang tua, perkumpulan pemuda juga di ruang tersebut, seperti arisn karang taruna, rapat kegiatan dan setiap bulan ramadhan kegiatan buka bersama pasti di ruang tersebut. Kegiatan TPQ anak-anak biasanya juga dilaksanakan di ruang bawah masjid. Ruangan ini setiap harinya tertutup, setiap kegiatan yang berada di ruangan tersebut harus menghubungi pengurus masjid karena kunci ruangan tersebut hanya beberapa orang saja yang membawanya.  Dapat dikatakan semenjak dibangunnya ruangan ini kegiatan-kegiatan warga, perkumpulan serta gotong-royong warga semakin guyub rukun.
III.             Simpulan
Menurut saya masjid di dusun ini memiliki arsitektur yang dapat dikatakan sudah modern, sebab masjid ini memiliki ukuran yang cukup besar serta masjid ini memiliki bangunan yang sangat indah. Meskipun demikian, masjid ini tidak meninggalkan budaya dahulu seperti adanya ukiran-ukiran di bangunan masjid, masih terdapat bedug yang ditabuh setiap akan azan, masih terdapat pula mimbar yang bergambarkan ukiran-ukiran jawa. Selain digunakan untuk kegiatan sholat berjamaah, masjid ini juga digunakan untuk anak-anak dan pemuda dusun mempelajari Al-Quran. Kegiatan anak-anak dan remaja di dusun ini bisa dibilang sangat aktif. Banyak kegiatan yang dilakukan oleh remaja masjid di dusun ini.
Setelah dibangunnya masjid Darul Fikri ini memang penduduk dusun Sambirejo semakin guyub rukun. Masjid ini dilengkapi ruang di serambi kanan dan kiri serta ruang di bawah masjid, ruangan di bawah masjid ini dapat dikatakan sebagai ruangan yang serba guna bagi kegiatan warga. Ruangan ini biasanya digunakan untuk pertemuan warga dusun yang dipimpin oleh kepala desa, selain digunakan untuk perkumpulan warga, ruangan ini juga digunakan untuk kegiatan TPQ anak-anak. Sangat jarang masjid yang memiliki ruangan di bawah masjid,  hal ini menjadi ciri khas masjid Darul Fikri. Warga desa mungkin telah mengetahui ruangan tersebut, sebab masjid ini dapat dikatakan masjid yang paling besar dan indah di desa Jatiroyo.
Menurut pendapat saya memang sangatlah tepat dibangunnya masjid yang berposisi di tengah-tengah dusun ini yang dilengkapi dengan ruangan di bawah masjid tersebut. Sebelum dibangunnya masjid ini memang ada sedikit pro dan kontra mengenai masjid yang pertama dibangun, selain itu warga dusun yang sholat berjamaah ke masjid memang tidak terlalu banyak. Setelah masjid serta ruangan ini dibangun gotong-royong dan kekeluargaan warga dusun semakin kuat, karena setiap kegiatan yang dilakukan selalu ingat akan perintah dan larangan Allah SWT. Dapat dikatakan masjid ini adalah pemersatu dusun Sambirejo.

IV.             Lampiran

 

 

 

Tugas dan Ngopi

NAMA             :HANDAYANI NIM                 :175231061 KELAS            :PERBANKAN SYARIAH 2B Antara Tugas dan Makan Lagi-la...